Career Issue, Kamis, 20/02/2014 11:00 WIB

K3: Ruangan Kantor pun Berisiko

K3 seringkali diidentikkan dengan lokasi pekerjaan yang berada di lapangan. Namun, benarkah selalu demikian?
K3: Ruangan Kantor pun Berisiko
Tanpa bermaksud menjadi phobia, tentu semua orang harus tetap menyadari risiko yang mungkin timbul ketika bekerja, termasuk bagi karyawan yang bekerja di dalam ruangan kantor.
Meski hanya duduk seharian di dalam ruangan, potensi bahaya tetap ada. Karena itulah, sosialisasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) seharusnya tetap diberikan kepada karyawan yang bekerja dalam ruangan kantor.

Beberapa waktu lalu, ECC UGM mengadakan poling mengenai sejauh mana karyawan yang bekerja di kantor mendapatkan arahan seputar K3  di lokasi kerja. Hasilnya, sebanyak 55% responden menyatakan pernah mendapatkan sosialisasi K3 dari perusahaan. Sebanyak 36% sisanya tidak mendapatkan sosialisasi K3 dari perusahaan. Sementara, sejumlah 9% menyatakan tidak tahu.

Indah Suryaningtyas, karyawan sebuah perusahaan asuransi, mengaku belum pernah mendapatkan sosialisasi K3 selama 4 bulan bekerja. “Kalau di dalam kantor sih menurutku aman. Selama ini juga tidak ada kecelakaan kerja yang fatal. Tapi aku berharap tetap ada sosialisasi dari kantor,” ujar Indah. Meski mengakui aman, Indah sebenarnya juga menyadari risiko yang mungkin timbul, misalnya dari radiasi layar komputer atau tangga yang licin.

Berbeda dengan Indah, Ni Made Puji Andari yang bekerja di sebuah bank swasta, sangat memahami K3 berkat sosialisasi dari tempatnya bekerja. “Ada sosialisasi K3 dari kantor. Ada simulasi juga untuk menyelamatkan diri, menggunakan alat pemadam kebakaran, dan mengikuti arahan evakuasi,” terang Puji, sapaan akrabnya.

Puji menuturkan, simulasi di tempat kerjanya dilakukan tiga kali dalam satu tahun setelah selesai bekerja. Biasanya, Puji dan rekan-rekan kerjanya dilatih untuk menyelamatkan slip-slip nasabah dan catatan keuangan terlebih dahulu ketika menemui kondisi bahaya.

Pentingnya Keselamatan dan Kesehatan

Keselamatan dan kesehatan tak bisa ditawar lagi demi produktivitas kerja, begitupun bagi karyawan yang bekerja di dalam kantor. Di sinilah pentingnya keberadaan safety officer yang bertanggung jawab menakar risiko dan memberikan solusi atas permasalahan K3, seperti yang dilakukan oleh Arina Alfi Fauzia, Safety Officer PT Guna Teguh Abadi.

Arina menjelaskan, tugas safety officer meliputi penentuan jam kerja aman bagi karyawan, mengecek kondisi site, hingga inspeksi peralatan kerja secara kontinyu setiap bulan. “Kita juga adakan simulasi setahun sekali. Kita kondisikan ada keadaan yang darurat dan perlu evakuasi, lalu kita lihat apakah para karyawan aware atau tidak dengan bahaya,” terang Arina.

Menurut Arina, baik bekerja di dalam maupun di luar kantor, risiko akan tetap ada. Tanda-tanda peringatan dan fasilitas keselamatan seharusnya tetap dipasang di dalam ruangan, seperti emergency exit, alat pemadam kebakaran, panel-panel tanda bahaya, dan sebagainya.

“Kesadaran karyawan sama saja baik di kantor maupun di lapangan. Tapi memang lain ya dengan karyawan yang berada di kantor. Mungkin karena tempatnya tenang, adem, jadi kadang ada yang menyepelekan,” lanjut Arina.

Hal senada diungkapkan oleh Dr.Ir. Widodo Hariyono, A.Md., M.Kes., staf pengajar Prodi S2 Kesehatan Kerja, Fakultas Kedokteran UGM sekaligus occupational safety and health consultant. “Semua orang bekerja pasti ada risikonya. Meski bekerja di dalam ruangan kantor, bisa saja kecelakaan atau sakit. Dalam istilah K3 disebut kecelakaan atau sakit akibat kerja,” ujar Widodo.
Semua orang bekerja pasti ada risikonya. Meski bekerja di dalam ruangan kantor, bisa saja kecelakaan atau sakit _Widodo Hariyono

K3 di Kantor

Lebih lanjut, Widodo menerangkan bahwa risiko bekerja di dalam kantor memang lebih kecil dan biasanya ditimbulkan oleh peralatan tertentu. Penyebab kecelakaan kerja sendiri meliputi alat, mesin, bahan baku, fasilitas, dan bangunan. Sedangkan penyebab sakit akibat kerja di dalam kantor meliputi faktor-faktor:

1. Fisika (pencahayaan, suhu, kelembaban, kebisingan, getaran mekanis, debu, tata letak, dll)
2. Biologi (mikroorganisme, serangga, binatang lainnya)
3. Kimia (semua bahan kimia yang digunakan oleh manusia, dalam bentuk padat, cair, maupun gas)
4. Ergonomi (performansi fisik dan psikis terhadap pekerjaan yang dilakukan)

Widodo juga menjelaskan mengenai sick building syndrome yang ditimbulkan oleh perabot dan fasilitas modern di gedung-gedung mewah, misalnya furnitur yang berpelitur atau serbuk karpet yang bisa mengganggu pernafasan. “Gejalanya bisa macam-macam, seperti mata pedih atau berair, kulit gatal, radang tenggorokan, sering buang air kecil, dan lain-lain,” lanjutnya.

Upaya yang dapat dilakukan agar K3 karyawan tetap terjamin adalah dengan memilih bahan baku, produk, atau fasilitas yang bebas dari pengaruh terhadap pemakainya. “Crosscheck ke produsen, pertimbangkan hasil riset, dan  standarisasi suatu produk,” jelas Widodo.

Nah, meski Anda bekerja di dalam kantor, jangan lantas terlena. Tetaplah selalu berhati-hati. Selamat bekerja! [CN/RIFKI/VINIA/CRTV]^^

Tags : K3 perusahaan, bahaya k3 di kantor, risiko bekerja di kantor, undang-undang K3
Beda Jenjang Pendidikan, Beda Level Sukses. Ah, Apa Benar Begitu? Career Issue,
Minggu, 14/09/2014 09:00 WIB Beda Jenjang Pendidikan, Beda Level Sukses. Ah, Apa Benar Begitu?
Kuliah Ganda: Antara Beban dan Kebanggaan. Sanggup? Career Issue,
Minggu, 14/09/2014 08:00 WIB Kuliah Ganda: Antara Beban dan Kebanggaan. Sanggup?
K3: Ruangan Kantor pun Berisiko | CAREERNEWS
banner CD UGM 16